{"id":381,"date":"2026-02-01T12:53:23","date_gmt":"2026-02-01T12:53:23","guid":{"rendered":"https:\/\/wartaedukasi.net\/?p=381"},"modified":"2026-02-23T16:55:51","modified_gmt":"2026-02-23T16:55:51","slug":"hadapi-individualisme-dprd-lampung-ajak-warga-pesisir-barat-revitalisasi-nilai-pancasila","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wartaedukasi.net\/?p=381","title":{"rendered":"Hadapi Individualisme, DPRD Lampung Ajak Warga Pesisir Barat Revitalisasi Nilai Pancasila"},"content":{"rendered":"<p>PESISIR BARAT \u2013 Menguatnya sikap individualistis di tengah perubahan sosial dinilai berpotensi menggerus kohesi sosial di tingkat masyarakat bawah. Kondisi tersebut menjadi perhatian Anggota<span class=\"hover:entity-accent entity-underline inline cursor-pointer align-baseline\"><span class=\"whitespace-normal\">DPRD Provinsi Lampung<\/span><\/span>Daerah Pemilihan IV (Tanggamus, Pesisir Barat, dan Lampung Barat),<span class=\"hover:entity-accent entity-underline inline cursor-pointer align-baseline\"><span class=\"whitespace-normal\">Imelda<\/span><\/span>, saat menggelar Sosialisasi Pembinaan Ideologi Pancasila dan Wawasan Kebangsaan di<span class=\"hover:entity-accent entity-underline inline cursor-pointer align-baseline\"><span class=\"whitespace-normal\">Kabupaten Pesisir Barat<\/span><\/span>, Sabtu (31\/1).<\/p>\n<p>Kegiatan tersebut menjadi ruang refleksi bersama bagi masyarakat dalam membaca tantangan kebangsaan yang kini tidak lagi bersifat makro, tetapi justru hadir dalam kehidupan sehari-hari. Hadirnya tokoh masyarakat, aparatur pekon, dan warga dari berbagai kalangan menandai tingginya kepedulian terhadap isu persatuan dan nilai kebangsaan.<\/p>\n<p>Dalam penyampaiannya, Imelda menyoroti perubahan pola hidup masyarakat yang kian pragmatis dan kompetitif. Menurutnya, kondisi tersebut tanpa disadari membuat nilai Pancasila semakin menjauh dari praktik kehidupan sosial, khususnya di lingkungan pekon.<\/p>\n<p>Ia menegaskan, Pancasila bukan sekadar teks konstitusional, melainkan pedoman hidup yang harus terus dihidupkan melalui kebiasaan kolektif seperti gotong royong, musyawarah, dan kepedulian sosial.<\/p>\n<p>\u201cKalau masyarakat mulai berjalan sendiri-sendiri, maka yang melemah bukan hanya hubungan sosial, tapi juga persatuan. Di sinilah pentingnya Pancasila dihadirkan kembali dalam praktik sehari-hari,\u201d ujar Imelda.<\/p>\n<p>Anggota Fraksi<span class=\"hover:entity-accent entity-underline inline cursor-pointer align-baseline\"><span class=\"whitespace-normal\">Partai Amanat Nasional<\/span><\/span>Lampung itu menilai, penguatan ideologi kebangsaan di tingkat pekon menjadi kunci menjaga stabilitas sosial daerah. Desa yang rukun dan solid, kata dia, akan menjadi benteng awal dalam menghadapi berbagai tantangan sosial, ekonomi, maupun budaya.<\/p>\n<p>Diskusi yang berlangsung interaktif turut mengungkap kegelisahan warga terkait menurunnya budaya kebersamaan. Menanggapi hal itu, Imelda mengajak masyarakat untuk tidak memandang gotong royong sebagai nilai lama yang ditinggalkan zaman, melainkan sebagai kekuatan strategis menghadapi kehidupan modern.<\/p>\n<p>Ia berharap, sosialisasi ideologi Pancasila ini mampu membangkitkan kesadaran kolektif masyarakat agar kembali menjadikan kebersamaan sebagai fondasi kehidupan sosial.<\/p>\n<p>\u201cKetahanan bangsa tidak dibangun dari pusat semata, tetapi dari pekon-pekon yang rukun dan warganya saling peduli. Dari sanalah kekuatan daerah dan bangsa tumbuh,\u201d pungkas Imelda.(rm)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>PESISIR BARAT \u2013 Menguatnya sikap individualistis di tengah perubahan sosial dinilai berpotensi menggerus kohesi sosial di tingkat masyarakat bawah. Kondisi tersebut menjadi perhatian AnggotaDPRD Provinsi LampungDaerah Pemilihan IV (Tanggamus, Pesisir Barat, dan Lampung Barat),Imelda, saat menggelar Sosialisasi Pembinaan Ideologi Pancasila dan Wawasan Kebangsaan diKabupaten Pesisir Barat, Sabtu (31\/1). Kegiatan tersebut menjadi ruang refleksi bersama bagi [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":384,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"pagelayer_contact_templates":[],"_pagelayer_content":"","footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-381","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized"],"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wartaedukasi.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/381","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wartaedukasi.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wartaedukasi.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wartaedukasi.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wartaedukasi.net\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=381"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/wartaedukasi.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/381\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":385,"href":"https:\/\/wartaedukasi.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/381\/revisions\/385"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wartaedukasi.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/384"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wartaedukasi.net\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=381"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wartaedukasi.net\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=381"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wartaedukasi.net\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=381"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}